Search

Archive for the ‘berita bali’ Category

Pramuwisata Liar Akan Ditindak

Pemprop Bali akan menindak tegas keberadaan pramuwisata liar berkaitan dengan ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) No. 1/ 2010 tentang Usaha Jasa Perjalanan Wisata (UJPW). Dengan diberlakukannya peraturan daerah ini, ke depan seluruh biro perjalanan wisata (BPW) yang ada harus menggunakan pramuwisata berlisensi.

Pramuwisata yang telah berlisensi, telah teruji kemampuannya untuk dapat memberikan penjelasan yaang benar terkait pariwisata Bali yang berbasis budaya. Keberadaan pramuwisata liar yang cenderung tanpa mempedulikan masalah lisensi ditakutkan akan dapat menodai pariwisata Bali, sehingga akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan wisata ke depannya.

Sementara itu, sering sekali mendapat pengaduan dari wisatawan terkait penjelasan yang diberikan oleh oknum pramuwisata liar yang memberikan penjelasan menyimpang dari arti yang sebenarnya. Untuk itu, dengan diberlakukannya perda itu, Pemprop Bali akan menindak tegas keberadaan pramuwisata tidak berlisensi yang diindikasikan banyak beroperasi di Bali. Sementara itu, adanya pramuwisata tak berlisensi kemungkinan karena keterbatasan masalah bahasa, banyak di lapangan ditemukan adanya keberadaan pramuwisata Mandarin yang cenderung tidak berlisensi.

Dengan demikian, diharapkan dengan adanya perda tersebut ke depan masalah pramuwisata liar dapat ditindak tegas, sehingga Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia dapat terus dipertahankan. Pemrop Bali dan Asita berharap, ke depan Bali dapat dibersihkan dari usaha-usaha yang tidak beretika agar dapat memberikan layanan terbaik bagi wisatawan.

Desa Wisata Gerakkan Ekonomi Masyarakat Pedesaan

Pengembangan pariwisata di Bali memasuki tahun 2010 ini, bisa kembali mengikuti teknik pengembangan pariwisata di era tahun 1970-an. Ketua DPP Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) mengatakan, pengembangan pariwisata Bali saat ini mesti lebih banyak memberdayakan masyarakat lokal, salah satunya dengan pengembangan desa wisata.

Sementara itu, lahan pertanian di Bali yang tersisa hanya sekitar 14 persen. Pemerintah mesti mengarahkan masyarakat pedesaan untuk ikut mengembangkan sektor pariwisata. Lahan pertanian tidak lagi dialihfungsikan untuk akomodasi maupun perumahan. Dengan melihat pembangunan pariwisata tahun 1970-an penduduk bisa memberdayakan rumahnya dalam bentuk home stay kepada wisatawan melalui desa wisata. Dengan menawarkan rumahnya untuk tempat penginapan, masyarakat bisa ikut berinteraksi dengan wisatawan.

Selain itu, untuk tren ke depan wisatawan yang berlibur ke Bali akan mencari kawasan desa wisata. Salah satu contohnya, wisatawan dari kawasan Eropa Timur dan Eropa Utara akan memilih menikmati desa wisata di Bali. Mereka jenuh tinggal di hotel berbintang. Wisatawan Eropa ini tentunya ingin melihat kehidupan nyata masyarakat di pedesaan. Mereka ingin tinggal dengan penduduk melalui home stay yang ditawarkan masyarakat pedesaan. Hanya saja, masyarakat di pedesaan harus bisa cepat berinteraksi dengan wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah desa di Bali.

Kendala pengembangan desa wisata selama ini adalah terbatasnya masyarakat pedesaan yang bisa memberikan pelayanan kepada wisatawan. SDM di desa mesti dilatih dalam pengusahaan bahasa asing termasuk keahlian di bidang pariwisata seperti memasak menu-menu masakan yang dibutuhkan wisatawan.

Jika 3 juta wisatawan yang berkunjung ke Bali bisa mengunjungi desa wisata akan menggerakkan ekonomi masyarakat pedesaan di Bali. Pengembangan desa wisata ini juga bisa melibatkan seluruh komponen di desa adat.

Salah satunya, kegiatan meeting wisatawan bisa menggunakan balai banjar yang letaknya berdekatan dengan areal pertanian. Wisatawan tidak mesti disuguhkan dengan ruangan meeting yang megah di hotel yang ber-AC. Mereka bisa ditawarkan ruang meeting balai banjar dengan udara persawahan yang sejuk. Ini tentunya bisa menekan penggunaan listrik sejalan dengan kenaikan TDL.

Sementara itu, perlu adanya upaya dari pelaku pariwisata di Bali untuk mengalihkan perhatian wisatawan untuk mengunjungi desa wisata. Dengan mengunjungi desa wisata, wisatawan bisa menikmati suasana baru di Bali. Pemerintah pusat melalui Kementerian Budpar juga sudah mengagendakan pengembangan desa wisata di Indonesia. Ini bisa ditindaklanjuti Pemprop Bali untuk pengembangan desa wisata di Bali.

Selain mendorong pengembangan desa wisata, Pemprop Bali perlu memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada SDM yang ada di kawasan pedesaan. Mereka juga merupakan bagian pelaku pariwisata. Ini juga upaya mengarahkan masyarakat bisa merasakan hasil pengembangan sektor pariwisata di Bali.

Selain itu, pemberdayaan desa wisata untuk menekan pengurangan lahan produktif di Bali. Masyarakat tidak perlu menjual lahan pertanian kepada investor untuk dibangun sarana akomodasi. Melainkan mereka juga bisa memanfaatkan rumahnya untuk dijadikan home stay untuk menginap bagi wisatawan.

Dengan mencontoh Malaysia sudah banyak penduduk memfungsikan rumahnya sebagai home stay untuk tempat menginap bagi wisatawan yang berlibur ke Malaysia.

Wisata Berkuda di Kintamani Potensial Digarap

Wisata berkuda khususnya untuk rute sepanjang kaki Gunung Batur, sesungguhnya telah lama diwacanakan oleh sejumlah kalangan di Kintamani, Bangli. Namun, hingga saat ini belum bisa direalisasikan dengan alasan sosiologis. Padahal sesungguhnya potensi wisata berkuda di kaldera Batur sangat besar peluangnya dikembangkan dan sama dengan pengembangan wisata trekking.

Memang salah satu penyebab wisata berkuda belum bisa digarap adalah masalah budaya dan sosiologis. Secara sosiologis dan budaya warga lokal khususnya warga Desa Adat Batur memang enggan untuk memelihara kuda dengan alasan adanya pantangan. Warga memang tidak ada yang berani memelihara kuda karena alasan kepercayaan.
Namun demikian, potensi wisata bekuda di Batur memiliki peluang yang cukup jika dikembangkan secara profesional. Dengan kondisi alam yang masih alami ditambah keindahan yang ditawarkan.
Selain itu, dengan pesona alam yang dimiliki, maka wisata berkuda bisa dikembangkan di Kintamani khususnya dengan jalur sepanjang lereng Gunung Batur yang masih alami. Yang menjadi masalah sekarang adalah apakah ada investor yang siap menanamkan modalnya untuk menggarap potensi ini.

Menurut Pemkab Bangli berkewajiban untuk mengembangkan potensi yang ada di Kintamani secara maksimal sehingga Kintamani tidak hanya dikenal dengan keindahan danau dan Gunung Batur saja, namun juga adanya alternatif wisata lain. Ini yang diharapkan dari pemerintah.

Kunjungan Wisatawan Malaysia ke Bali Turun 8,25 Persen

Masyarakat Malaysia yang berwisata ke Bali turun 8,25 persen dari 68.192 orang selama periode Januari-Mei 2009 menjadi hanya 63.363 orang pada periode yang sama 2010. Kondisi tersebut menyebabkan posisi negeri tetangga itu melorot dari urutan tiga menjadi lima dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Pulau Dewata.

Masyarakat Malaysia itu seluruhnya datang lewat Bandara Ngurah Rai, hanya dua orang yang tercatat melalui pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar. Masyarakat Negeri Jiran yang berliburan ke Bali mampu memberikan kontribusi sebesar 5,61 persen dari total wisman ke Bali sebanyak 952.073 orang selama lima bulan pertama 2010.

Kondisi tersebut mengalami peningkatan sebesar 9,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 870.029 orang. Dari sepuluh negara terbanyak memasok turis ke Bali, lima negara di antaranya mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni Australia naik 55,72 persen dari 137.018 orang menjadi 213.361 orang, Taiwan naik 13,83 persen dari 48.168 orang menjadi 54.828 orang.

Selain itu Belanda 45,89 persen dari 20.829 orang menjadi 30.388 orang, Inggris 3,83 persen dari 19.495 orang menjadi 29.862 orang dan Singapura 53,18 persen dari 19.495 orang menjadi 29.862 orang. Sementara lima negara lainnya yang mengalami penurunan selain Malaysia juga Cina 2,67 persen dari 85.828 orang menjadi 83.535 orang, Jepang turun 24,71 persen dari 132.122 orang menjadi 99.473 orang dan Malaysia 8,26 persen dari 58,192 orang menjadi 53.383 orang.

Demikian pula wisatawan asal Korea Selatan turun 7,03 persen dari 52.311 orang menjadi 48.531 orang dan Prancis 5,35 persen dari 37.256 orang menjadi 35.264 orang.

Lemahkan Daya Saing Pariwisata Bali Dengan Naiknya TDL

Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dipastikan akan berdampak pada semua sektor usaha termasuk usaha di sektor pariwisata. Kenaikan TDL pada dasarnya akan sangat berpengaruh terhadap kegiatan produksi/operasional termasuk di sektor usaha dan jasa pariwisata. Kenaikan TDL ini juga akan berpengaruh terhadap semua jenis usaha di luar pariwisata apapun jenis usahanya.

Kenaikan TDL ini akan memicu lemahnya daya saing bagi pengusaha pariwisata di Bali. Ini akan menekan margin profit dari pengusaha pariwisata di Bali. Industri pariwisata ini akan terkena dampak yang cukup besar kenaikan TDL. Ini dikarenakan, mayoritas kebutuhan sektor pariwisata terhadap energi listrik cukup tinggi.

Kenaikan TDL ini akan memaksa para pengusaha di bidang pariwisata menaikkan harga atau tarif. Kondisi kenaikan TDL ini merupakan situasi yang kurang menguntungkan dalam kondisi krisis global seperti saat ini. Pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata akan makin berat menjalankan usahanya. Akibat kenaikan TDL, produk pariwisata Bali akan menjadi lebih mahal dari destinasi pariwisata yang lain. Daya saing sektor pariwisata Bali akan makin menurun dari negara lain. Yang perlu diingat adalah bila Bali terlalu mahal maka wisatawan akan berpindah ke tujuan wisata negara lainnya.

Intinya suka atau tidak suka, pemerintah akan tetap menaikkan TDL. Masyarakat dan pelaku pariwisata tentunya sudah memahami pelayanan yang diberikan PLN dalam penyediaan konsumsi listrik untuk sektor pariwisata belum maksimal.
Ke depan pemerintah dan sektor swasta di Bali wajib memikirkan power resource di luar PLN seperti Freeport di Papua. Ini untuk mengurangi tingkat ketergantungan sektor pariwisata termasuk industri yang lain terhadap PLN menjadi makin berkurang.

Pasar Australia Potensial Digarap

Wisatawan Australia sangat menyukai destinasi pariwisata Bali. Pelaku pariwisata di Bali wajib untuk melihat peluang guna mengembangkan pasar Australia secara optimal.

Wisatawan Australia memilih berkunjung ke Bali karena jarak perjalanan yang cukup dekat. Selain itu, faktor keamanan menjadi perhatian wisatawan Australia untuk berlibur ke Bali. Keamanan pariwisata Bali tahun 2010 yang relatif kondusif, menjadi indikator wisatawan Australia untuk berlibur ke Bali. Pelaku pariwisata Bali di antaranya perlu memperhatikan pelayanan imigrasi bagi wisatawan Australia di Bandara Ngurah Rai.

Selain itu, pelaku pariwisata Bali juga perlu memperhatikan pelayanan wisatawan Australia ketika menginap di hotel. Ini termasuk pelayanan bagi wisatawan Australia ketika mengunjungi objek wisata di Bali.

Berdasarkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Bali, kunjungan wisatawan Australia ke Bali pada Januari – April 2009 mencapai 102.066 orang. Kunjungan wisatawan Australia dari Januari – April 2010 mencapai 162.982 orang. Bila dibandingkan kunjungan wisatawan Australia ke Bali Januari – April tahun 2010 dengan kunjungan wisatawan Australia Januari – April 2009 terjadi peningkatan kunjungan wisatawan Australia ke Bali sebesar 59,68 persen.

Pasar Australia sangat prospektif jika dikembangkan pelaku pariwisata Bali. Wisatawan Australia memiliki kebiasaan untuk berlibur termasuk mengunjungi Bali. Sekarang tinggal kemauan pelaku pariwisata Bali untuk mengarap pasar Australia.

Sangeh Minim Kunjungan Wisdom

Membludaknya wisatawan domestik (wisdom) yang merayakan libur sekolah di Bali, belum dirasakan pengelola kawasan wisata Sangeh. Kedatangan wisdom yang didominasi pelajar, menurut seorang pengelola objek wisata Sangeh, masih terlihat minim.

Kedatangan wisatawan yang menyaksikan gerak-gerik kera di Sangeh, masih biasa saja berkisar 400-500 orang per hari. Dibandingkan menjelang libur sekolah tahun lalu, kedatangan wisdom khususnya pelajar bisa mencapai ribuan orang per hari. Lonjakan kedatangan wisdom, diperkirakan akan terjadi pertengahan Juni serangkaian dibukanya Pesta Kesenian Bali (PKB). Wisdom diperkirakan akan memenuhi tiap kawasan wisata yang ada di Bali.

Menurut informasi dari biro perjalanan wisata, lonjakan wisdom ke Bali terjadi pada pertengahan bulan ini. Mudah-mudahan dengan kedatangan Barack Obama, selain wisatawan domestik kedatangan wisatawan mancanegara juga ikut terdongkrak. Selain itu, banyak biro perjalanan yang masih enggan membawa wisatawannya berkunjung ke Sangeh akibat akses jalan menuju objek wisata tersebut buntu. Dari segi pelayanan, sudah memberikan yang terbaik agar wisatawan tertarik untuk datang, tapi karena akses jalan kendaraan wisata yang datang harus berbalik haluan.

Sementara itu, objek wisata alam Sangeh menjadi destinasi wisata terfavorit wisatawan domestik yang merayakan libur di Bali. Selain Tanah Lot, Sangeh juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Seperti tingkah laku kera yang lucu serta filosofi yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, banyaknya kunjungan wisatawan domestik ke Bali dikarenakan sebagian siswa libur bertepatan dengan masa ujian kenaikan kelas. Belakangan kunjungan tamu terus meningkat, terutama dari kalangan pelajar. Jumlah yang datang akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada pertengahan Juni-Juli bertepatan dengan musim liburan sekolah.

Objek wisata Sangeh mematok tarif sebesar Rp 5.000 untuk lokal dan Rp 10.000 untuk asing. Sementara, tingkat kunjungan wisdom periode Mei 2010 tercatat 1.250 orang, sedangkan kedatangan wisatawan asing tercatat 22.000 orang. Dibandingkan periode April 2010 angka tersebut diperkirakan naik hingga 10 persen dengan jumlah kunjungan 18.800 orang.

Kemacetan Menjadi Momok bagi Pariwisata Bali

Kemacetan menjadi bayangan kelabu keseharian pariwisata Bali. Hampir tiap saat pemandangan antrean kendaraan di jalur By Pas Ngurah Rai terjadi.

Seiring memasuki musim liburan akhir bulan ini, rute padat dan super sibuk pada jam-jam tertentu, kian tak terelakkan. Satu-satunya jalur untuk dilewati menuju arah Nusa Dua, yaitu Jl. Sunset Road, Simpang Siur hampir sulit seperti tempat yang bikin stres.

Kemacetan benar-benar memuakkan. Sebagai pengguna jalan tiap hari, tidak pagi tidak sore, arah menuju Nusa Dua atau sebaliknya benar-benar membuat stress. Perlu waktu lebih dari 2 jam hanya untuk menempuh jarak dari Denpasar-Nusa Dua atau sebaliknya.

Kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan yang lalu lalang sudah tidak sebanding. Belum lagi kegiatan atau event internasional dengan kedatangan pejabat penting setingkat presiden yang menyebabkan jalanan selalu ditutup. Ia meminta kepada pemerintah untuk segera mengatasi kemacetan di kawasan Badung Selatan itu.

Selain itu, para pemandu wisata juga mengeluhkan, setiap membawa tamu ke Kuta atau Nusa Dua, rute yang ditempuh mungkin hanya habis di jalan saja, sehingga wisatawan mulai ada kejenuhan.

Sejumlah solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kemacetan yaitu pembangunan jalan alternatif seperti jalan layang atau pun bawah tanah (sub way), sudah tidak bisa ditawar lagi. Menurut Gubernur Bali Mangku Pastika beberapa waktu lalu, jalan layang menjadi solusi yang cocok. Cuma kepastian kapan dibangun hingga kini belum ada kejelasan.

Kemacetan bukan hanya terjadi di jalur pariwisata. Denpasar sebagai ibu kota provinsi pun makin parah saja. Kemacetan terjadi hampir di semua rute. Apalagi kemarin, Jalan Gatsu dan Jalan Teuku Umar hampir-hampir macet total. Jika ini terus dibiarkan maka pariwisata dan kegiatan ekonomi Bali akan mengalami masa suram.

Bali Ramai Dikunjungi Wisatawan Belanda

Kedatangan wisatawan Belanda periode Januari – Maret 2010 memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan pariwisata Bali. Jumlah mereka pada periode tersebut tercatat mencapai 19.080 orang atau naik sebesar 66.46 persen dari periode yang sama 2009 tercatat 465.182 orang.

Dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Pulau Dewata, kedatangan wisatawan Belanda ke Bali menempati urutan kesembilan dengan kontribusi sebesar 3,46 persen dari total kunjungan wisatawan ke Bali yang mencapai 551.186 orang. Wisatawan asal Belanda hampir seluruhnya datang lewat Bandara Ngurah Rai dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya.

Selain Belanda ada enam negara lainnya yang juga mengalami peningkatan seperti Australia 68,93 persen, Cina 4,42 persen, Taiwan 23,34 persen, Rusia 5,13 persen, Inggris 47,57 persen dan Prancis 19,73 persen. Sementara yang paling banyak mengalami penurunan adalah Jepang mencapai 20,48 persen. Jumlah kunjungan wisatawan Belanda ke Bali terus mengalami peningkatan pascaledakan bom Bali. Sejumlah objek wisata yang banyak dikunjungi adalah wisata bahari dan ecotourism.

Sementara itu, wisatawan Belanda harus tetap mendapat perhatian pemerintah. Selain pasar utama wisman yang tengah dibidik seperti Cina, Korea, India, Malaysia, Singapura dan Australia. Pascatragedi yang terjadi di Bali, wisatawan Belanda yang berlibur ke Bali hanya berupa kunjungan individual atau disebut free individual traveler (FIT), tapi sejak akhir tahun lalu, mereka mulai datang berkelompok terdiri dari 8-10 orang yang sekarang meningkat menjadi 20-25 orang per grup.

Diperkirakan tahun ini kunjungan wisatawan Belanda akan meningkat karena pada saat low season Januari-Februari lalu, kunjungan wisatawan Eropa terutama Belanda yang biasa ditanganinya terus naik bahkan destinasi yang dipilih sudah merambah ke luar Bali.

Jemput Wisatawan di Terminal Bandara Dilarang

Sangat disayangkan oleh otoritas Bandara Ngurah Rai di Bali, adanya penjemput wisatawan dari biro perjalanan wisata (BPW) yang sampai masuk terminal. Pihak terkait dari PT Angkasa Pura (AP) I (Persero) Bandara Ngurah Rai, mengatakan, AP I melarang sepenuhnya penjemputan wisatawan oleh BPW di Bali melewati kawasan penjemputan dan melarang penjemput wisatawan tersebut masuk ke kawasan terminal Bandara Ngurah Rai.

Penjemput wisatawan dari BPW hanya diperbolehkan menjemput wisatawan di kawasan penjemputan. AP I sangat menyesalkan kejadian sebelumnya, penjemput wisatawan dari BPW melewati kawasan penjemputan dan masuk kawasan terminal hanya untuk menjemput wisatawan.

Masuknya penjemput wisatawan dari BPW ke kawasan terminal Bandara Ngurah Rai, tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan. Ini termasuk tidak akan mempercepat penyelesaian kegiatan administrasi wisatawan di Bandara Ngurah Rai.
Selain itu, masuknya penjemput wisatawan ke kawasan terminal hanya akan menimbulkan kesemrawutan. Ini memunculkan permasalahan baru yang membuat kondisi kawasan terminal Ngurah Rai akan makin semrawut dan berpotensi menimbulkan kekacauan. Padahal, dalam penanganan keamanan, AP I menerapkan standar keamanan internasional di Bandara Ngurah Rai.

Dengan mengedepankan masalah keamanan, AP I tetap tidak akan memberikan izin bagi penjemput wisatawan dari BPW untuk masuk ke kawasan terminal Bandara Ngurah Rai. Ulah penjemput wisatawan dari BPW ke kawasan terminal membuat kondisi Bandara Ngurah Rai menjadi tambah ruwet.

Selain itu, masuknya penjemput wisatawan ke areal terminal Bandara Ngurah Rai ini tidak mempercepat pelayanan di Bandara Ngurah Rai. Penjemput wisatawan yang masuk ke areal terminal tidak akan bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi wisatawan. Ini termasuk masuknya penjemput wisatawan dari BPW tidak akan bisa membuat pelayanan bandara termasuk pelayananan imigrasi makin cepat.

Dengan kejadian ini diharapkan, semua pelaku pariwisata yang memanfaatkan jasa Bandara Ngurah Rai termasuk penjemput wisatawan dari BPW bisa menjaga image Bandara Ngurah Rai sebagai bandara internasional. Penjemput wisatawan mesti tetap mengedepankan keamanan bandara sehingga bisa memberikan kenyamanan kepada wisatawan. Penjemput dari BPW di Bali ini diharapkan tetap melakukan penjemputan wisatawan di areal penjemputan dan tidak boleh masuk kawasan terminal Bandara Ngurah Rai.