Search

Desa Wisata Gerakkan Ekonomi Masyarakat Pedesaan

Pengembangan pariwisata di Bali memasuki tahun 2010 ini, bisa kembali mengikuti teknik pengembangan pariwisata di era tahun 1970-an. Ketua DPP Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) mengatakan, pengembangan pariwisata Bali saat ini mesti lebih banyak memberdayakan masyarakat lokal, salah satunya dengan pengembangan desa wisata.

Sementara itu, lahan pertanian di Bali yang tersisa hanya sekitar 14 persen. Pemerintah mesti mengarahkan masyarakat pedesaan untuk ikut mengembangkan sektor pariwisata. Lahan pertanian tidak lagi dialihfungsikan untuk akomodasi maupun perumahan. Dengan melihat pembangunan pariwisata tahun 1970-an penduduk bisa memberdayakan rumahnya dalam bentuk home stay kepada wisatawan melalui desa wisata. Dengan menawarkan rumahnya untuk tempat penginapan, masyarakat bisa ikut berinteraksi dengan wisatawan.

Selain itu, untuk tren ke depan wisatawan yang berlibur ke Bali akan mencari kawasan desa wisata. Salah satu contohnya, wisatawan dari kawasan Eropa Timur dan Eropa Utara akan memilih menikmati desa wisata di Bali. Mereka jenuh tinggal di hotel berbintang. Wisatawan Eropa ini tentunya ingin melihat kehidupan nyata masyarakat di pedesaan. Mereka ingin tinggal dengan penduduk melalui home stay yang ditawarkan masyarakat pedesaan. Hanya saja, masyarakat di pedesaan harus bisa cepat berinteraksi dengan wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah desa di Bali.

Kendala pengembangan desa wisata selama ini adalah terbatasnya masyarakat pedesaan yang bisa memberikan pelayanan kepada wisatawan. SDM di desa mesti dilatih dalam pengusahaan bahasa asing termasuk keahlian di bidang pariwisata seperti memasak menu-menu masakan yang dibutuhkan wisatawan.

Jika 3 juta wisatawan yang berkunjung ke Bali bisa mengunjungi desa wisata akan menggerakkan ekonomi masyarakat pedesaan di Bali. Pengembangan desa wisata ini juga bisa melibatkan seluruh komponen di desa adat.

Salah satunya, kegiatan meeting wisatawan bisa menggunakan balai banjar yang letaknya berdekatan dengan areal pertanian. Wisatawan tidak mesti disuguhkan dengan ruangan meeting yang megah di hotel yang ber-AC. Mereka bisa ditawarkan ruang meeting balai banjar dengan udara persawahan yang sejuk. Ini tentunya bisa menekan penggunaan listrik sejalan dengan kenaikan TDL.

Sementara itu, perlu adanya upaya dari pelaku pariwisata di Bali untuk mengalihkan perhatian wisatawan untuk mengunjungi desa wisata. Dengan mengunjungi desa wisata, wisatawan bisa menikmati suasana baru di Bali. Pemerintah pusat melalui Kementerian Budpar juga sudah mengagendakan pengembangan desa wisata di Indonesia. Ini bisa ditindaklanjuti Pemprop Bali untuk pengembangan desa wisata di Bali.

Selain mendorong pengembangan desa wisata, Pemprop Bali perlu memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada SDM yang ada di kawasan pedesaan. Mereka juga merupakan bagian pelaku pariwisata. Ini juga upaya mengarahkan masyarakat bisa merasakan hasil pengembangan sektor pariwisata di Bali.

Selain itu, pemberdayaan desa wisata untuk menekan pengurangan lahan produktif di Bali. Masyarakat tidak perlu menjual lahan pertanian kepada investor untuk dibangun sarana akomodasi. Melainkan mereka juga bisa memanfaatkan rumahnya untuk dijadikan home stay untuk menginap bagi wisatawan.

Dengan mencontoh Malaysia sudah banyak penduduk memfungsikan rumahnya sebagai home stay untuk tempat menginap bagi wisatawan yang berlibur ke Malaysia.

Leave a Reply