Archive for July, 2010
Wisata Berkuda di Kintamani Potensial Digarap
Wisata berkuda khususnya untuk rute sepanjang kaki Gunung Batur, sesungguhnya telah lama diwacanakan oleh sejumlah kalangan di Kintamani, Bangli. Namun, hingga saat ini belum bisa direalisasikan dengan alasan sosiologis. Padahal sesungguhnya potensi wisata berkuda di kaldera Batur sangat besar peluangnya dikembangkan dan sama dengan pengembangan wisata trekking.
Memang salah satu penyebab wisata berkuda belum bisa digarap adalah masalah budaya dan sosiologis. Secara sosiologis dan budaya warga lokal khususnya warga Desa Adat Batur memang enggan untuk memelihara kuda dengan alasan adanya pantangan. Warga memang tidak ada yang berani memelihara kuda karena alasan kepercayaan.
Namun demikian, potensi wisata bekuda di Batur memiliki peluang yang cukup jika dikembangkan secara profesional. Dengan kondisi alam yang masih alami ditambah keindahan yang ditawarkan.
Selain itu, dengan pesona alam yang dimiliki, maka wisata berkuda bisa dikembangkan di Kintamani khususnya dengan jalur sepanjang lereng Gunung Batur yang masih alami. Yang menjadi masalah sekarang adalah apakah ada investor yang siap menanamkan modalnya untuk menggarap potensi ini.
Menurut Pemkab Bangli berkewajiban untuk mengembangkan potensi yang ada di Kintamani secara maksimal sehingga Kintamani tidak hanya dikenal dengan keindahan danau dan Gunung Batur saja, namun juga adanya alternatif wisata lain. Ini yang diharapkan dari pemerintah.
Kunjungan Wisatawan Malaysia ke Bali Turun 8,25 Persen
Masyarakat Malaysia yang berwisata ke Bali turun 8,25 persen dari 68.192 orang selama periode Januari-Mei 2009 menjadi hanya 63.363 orang pada periode yang sama 2010. Kondisi tersebut menyebabkan posisi negeri tetangga itu melorot dari urutan tiga menjadi lima dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Pulau Dewata.
Masyarakat Malaysia itu seluruhnya datang lewat Bandara Ngurah Rai, hanya dua orang yang tercatat melalui pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar. Masyarakat Negeri Jiran yang berliburan ke Bali mampu memberikan kontribusi sebesar 5,61 persen dari total wisman ke Bali sebanyak 952.073 orang selama lima bulan pertama 2010.
Kondisi tersebut mengalami peningkatan sebesar 9,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 870.029 orang. Dari sepuluh negara terbanyak memasok turis ke Bali, lima negara di antaranya mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni Australia naik 55,72 persen dari 137.018 orang menjadi 213.361 orang, Taiwan naik 13,83 persen dari 48.168 orang menjadi 54.828 orang.
Selain itu Belanda 45,89 persen dari 20.829 orang menjadi 30.388 orang, Inggris 3,83 persen dari 19.495 orang menjadi 29.862 orang dan Singapura 53,18 persen dari 19.495 orang menjadi 29.862 orang. Sementara lima negara lainnya yang mengalami penurunan selain Malaysia juga Cina 2,67 persen dari 85.828 orang menjadi 83.535 orang, Jepang turun 24,71 persen dari 132.122 orang menjadi 99.473 orang dan Malaysia 8,26 persen dari 58,192 orang menjadi 53.383 orang.
Demikian pula wisatawan asal Korea Selatan turun 7,03 persen dari 52.311 orang menjadi 48.531 orang dan Prancis 5,35 persen dari 37.256 orang menjadi 35.264 orang.
Lemahkan Daya Saing Pariwisata Bali Dengan Naiknya TDL
Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dipastikan akan berdampak pada semua sektor usaha termasuk usaha di sektor pariwisata. Kenaikan TDL pada dasarnya akan sangat berpengaruh terhadap kegiatan produksi/operasional termasuk di sektor usaha dan jasa pariwisata. Kenaikan TDL ini juga akan berpengaruh terhadap semua jenis usaha di luar pariwisata apapun jenis usahanya.
Kenaikan TDL ini akan memicu lemahnya daya saing bagi pengusaha pariwisata di Bali. Ini akan menekan margin profit dari pengusaha pariwisata di Bali. Industri pariwisata ini akan terkena dampak yang cukup besar kenaikan TDL. Ini dikarenakan, mayoritas kebutuhan sektor pariwisata terhadap energi listrik cukup tinggi.
Kenaikan TDL ini akan memaksa para pengusaha di bidang pariwisata menaikkan harga atau tarif. Kondisi kenaikan TDL ini merupakan situasi yang kurang menguntungkan dalam kondisi krisis global seperti saat ini. Pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata akan makin berat menjalankan usahanya. Akibat kenaikan TDL, produk pariwisata Bali akan menjadi lebih mahal dari destinasi pariwisata yang lain. Daya saing sektor pariwisata Bali akan makin menurun dari negara lain. Yang perlu diingat adalah bila Bali terlalu mahal maka wisatawan akan berpindah ke tujuan wisata negara lainnya.
Intinya suka atau tidak suka, pemerintah akan tetap menaikkan TDL. Masyarakat dan pelaku pariwisata tentunya sudah memahami pelayanan yang diberikan PLN dalam penyediaan konsumsi listrik untuk sektor pariwisata belum maksimal.
Ke depan pemerintah dan sektor swasta di Bali wajib memikirkan power resource di luar PLN seperti Freeport di Papua. Ini untuk mengurangi tingkat ketergantungan sektor pariwisata termasuk industri yang lain terhadap PLN menjadi makin berkurang.