Kemacetan Menjadi Momok bagi Pariwisata Bali
Kemacetan menjadi bayangan kelabu keseharian pariwisata Bali. Hampir tiap saat pemandangan antrean kendaraan di jalur By Pas Ngurah Rai terjadi.
Seiring memasuki musim liburan akhir bulan ini, rute padat dan super sibuk pada jam-jam tertentu, kian tak terelakkan. Satu-satunya jalur untuk dilewati menuju arah Nusa Dua, yaitu Jl. Sunset Road, Simpang Siur hampir sulit seperti tempat yang bikin stres.
Kemacetan benar-benar memuakkan. Sebagai pengguna jalan tiap hari, tidak pagi tidak sore, arah menuju Nusa Dua atau sebaliknya benar-benar membuat stress. Perlu waktu lebih dari 2 jam hanya untuk menempuh jarak dari Denpasar-Nusa Dua atau sebaliknya.
Kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan yang lalu lalang sudah tidak sebanding. Belum lagi kegiatan atau event internasional dengan kedatangan pejabat penting setingkat presiden yang menyebabkan jalanan selalu ditutup. Ia meminta kepada pemerintah untuk segera mengatasi kemacetan di kawasan Badung Selatan itu.
Selain itu, para pemandu wisata juga mengeluhkan, setiap membawa tamu ke Kuta atau Nusa Dua, rute yang ditempuh mungkin hanya habis di jalan saja, sehingga wisatawan mulai ada kejenuhan.
Sejumlah solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kemacetan yaitu pembangunan jalan alternatif seperti jalan layang atau pun bawah tanah (sub way), sudah tidak bisa ditawar lagi. Menurut Gubernur Bali Mangku Pastika beberapa waktu lalu, jalan layang menjadi solusi yang cocok. Cuma kepastian kapan dibangun hingga kini belum ada kejelasan.
Kemacetan bukan hanya terjadi di jalur pariwisata. Denpasar sebagai ibu kota provinsi pun makin parah saja. Kemacetan terjadi hampir di semua rute. Apalagi kemarin, Jalan Gatsu dan Jalan Teuku Umar hampir-hampir macet total. Jika ini terus dibiarkan maka pariwisata dan kegiatan ekonomi Bali akan mengalami masa suram.