Archive for May, 2010
Bali Ramai Dikunjungi Wisatawan Belanda
Kedatangan wisatawan Belanda periode Januari – Maret 2010 memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan pariwisata Bali. Jumlah mereka pada periode tersebut tercatat mencapai 19.080 orang atau naik sebesar 66.46 persen dari periode yang sama 2009 tercatat 465.182 orang.
Dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Pulau Dewata, kedatangan wisatawan Belanda ke Bali menempati urutan kesembilan dengan kontribusi sebesar 3,46 persen dari total kunjungan wisatawan ke Bali yang mencapai 551.186 orang. Wisatawan asal Belanda hampir seluruhnya datang lewat Bandara Ngurah Rai dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya.
Selain Belanda ada enam negara lainnya yang juga mengalami peningkatan seperti Australia 68,93 persen, Cina 4,42 persen, Taiwan 23,34 persen, Rusia 5,13 persen, Inggris 47,57 persen dan Prancis 19,73 persen. Sementara yang paling banyak mengalami penurunan adalah Jepang mencapai 20,48 persen. Jumlah kunjungan wisatawan Belanda ke Bali terus mengalami peningkatan pascaledakan bom Bali. Sejumlah objek wisata yang banyak dikunjungi adalah wisata bahari dan ecotourism.
Sementara itu, wisatawan Belanda harus tetap mendapat perhatian pemerintah. Selain pasar utama wisman yang tengah dibidik seperti Cina, Korea, India, Malaysia, Singapura dan Australia. Pascatragedi yang terjadi di Bali, wisatawan Belanda yang berlibur ke Bali hanya berupa kunjungan individual atau disebut free individual traveler (FIT), tapi sejak akhir tahun lalu, mereka mulai datang berkelompok terdiri dari 8-10 orang yang sekarang meningkat menjadi 20-25 orang per grup.
Diperkirakan tahun ini kunjungan wisatawan Belanda akan meningkat karena pada saat low season Januari-Februari lalu, kunjungan wisatawan Eropa terutama Belanda yang biasa ditanganinya terus naik bahkan destinasi yang dipilih sudah merambah ke luar Bali.
Jemput Wisatawan di Terminal Bandara Dilarang
Sangat disayangkan oleh otoritas Bandara Ngurah Rai di Bali, adanya penjemput wisatawan dari biro perjalanan wisata (BPW) yang sampai masuk terminal. Pihak terkait dari PT Angkasa Pura (AP) I (Persero) Bandara Ngurah Rai, mengatakan, AP I melarang sepenuhnya penjemputan wisatawan oleh BPW di Bali melewati kawasan penjemputan dan melarang penjemput wisatawan tersebut masuk ke kawasan terminal Bandara Ngurah Rai.
Penjemput wisatawan dari BPW hanya diperbolehkan menjemput wisatawan di kawasan penjemputan. AP I sangat menyesalkan kejadian sebelumnya, penjemput wisatawan dari BPW melewati kawasan penjemputan dan masuk kawasan terminal hanya untuk menjemput wisatawan.
Masuknya penjemput wisatawan dari BPW ke kawasan terminal Bandara Ngurah Rai, tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan. Ini termasuk tidak akan mempercepat penyelesaian kegiatan administrasi wisatawan di Bandara Ngurah Rai.
Selain itu, masuknya penjemput wisatawan ke kawasan terminal hanya akan menimbulkan kesemrawutan. Ini memunculkan permasalahan baru yang membuat kondisi kawasan terminal Ngurah Rai akan makin semrawut dan berpotensi menimbulkan kekacauan. Padahal, dalam penanganan keamanan, AP I menerapkan standar keamanan internasional di Bandara Ngurah Rai.
Dengan mengedepankan masalah keamanan, AP I tetap tidak akan memberikan izin bagi penjemput wisatawan dari BPW untuk masuk ke kawasan terminal Bandara Ngurah Rai. Ulah penjemput wisatawan dari BPW ke kawasan terminal membuat kondisi Bandara Ngurah Rai menjadi tambah ruwet.
Selain itu, masuknya penjemput wisatawan ke areal terminal Bandara Ngurah Rai ini tidak mempercepat pelayanan di Bandara Ngurah Rai. Penjemput wisatawan yang masuk ke areal terminal tidak akan bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi wisatawan. Ini termasuk masuknya penjemput wisatawan dari BPW tidak akan bisa membuat pelayanan bandara termasuk pelayananan imigrasi makin cepat.
Dengan kejadian ini diharapkan, semua pelaku pariwisata yang memanfaatkan jasa Bandara Ngurah Rai termasuk penjemput wisatawan dari BPW bisa menjaga image Bandara Ngurah Rai sebagai bandara internasional. Penjemput wisatawan mesti tetap mengedepankan keamanan bandara sehingga bisa memberikan kenyamanan kepada wisatawan. Penjemput dari BPW di Bali ini diharapkan tetap melakukan penjemputan wisatawan di areal penjemputan dan tidak boleh masuk kawasan terminal Bandara Ngurah Rai.
Pengusaha Angkutan Wisata bisa Minta Tarif Berlangganan
Pengusaha angkutan wisata di Bali yang minta keringanan biaya masuk ke Bandara Ngurah Rai, bisa dinilai wajar dalam menekan biaya operasional armada angkutan wisata.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar mengatakan, pengusaha angkutan wisata di Bali bisa meminta tarif langganan kepada pengelola Bandara Ngurah Rai untuk mendapatkan keringanan biaya masuk bandara.
Setiap bandara di Indonesia mengenakan biaya masuk jika ingin menuju lingkungan bandara. Dana yang dikumpulkan dari pengenaan biaya masuk ini di antaranya untuk perbaikan kualitas bandara. Dan kendaraan angkutan wisata yang masuk ke lingkungan bandara, tentunya wajib dikenakan biaya masuk. Jika merasa keberatan dengan biaya masuk ini, tentunya pengusaha angkutan wisata selaku pengguna jasa bandara perlu melakukan pendekatan dengan pengelola Bandara Ngurah Rai.
Selaku pengguna jasa bandara pengusaha angkutan wisata di Bali bisa saja memohon keringanan pengenaan biaya masuk. Ini bisa dengan mengajukan tarif khusus kepada pengelola Bandara Ngurah Rai. Wujud pengenaan tarif khusus ini bisa dalam bentuk pengenaan tarif berlangganan bagi pengusaha angkutan wisata yang armadanya masuk ke kawasan Bandara Ngurah Rai.
Di bagian lain, dengan pengenaan biaya masuk, pengelola Bandara Ngurah Rai diharapkan bisa menjaga keamanan dan kenyamanan fasilitas bandara. Ini meliputi penyediaan parkir yang teduh, kebersihan lingkungan bandara selalu terjaga dengan baik. Di sisi lain keamanan bandara terjaga dengan baik dengan alat pengamanan termasuk alat pendeteksi yang lebih baik.
Selain biaya masuk bandara, pendapatan lain dari Bandara Ngurah Rai diharapkan lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan dan penataan lingkungan bandara.
Sementara itu, menyikapi keluhan pengusaha angkutan wisata yang meminta keringanan biaya masuk bandara mesti disikapi pengelola Bandara Ngurah Rai dengan memberikan tarif berlangganan yang diatur secara spesifik. Dengan tarif berlangganan ini, pengusaha angkutan wisata ini bisa membayar lebih murah biaya masuk ke Bandara Ngurah Rai.
Jika pengelola Bandara Ngurah Rai mampu menerapkan tarif berlangganan bagi pengusaha angkutan wisata di Bali. Ini sama dengan pengenaan tarif biaya masuk khusus bagi karyawan bandara ketika masuk ke lingkungan Bandara Ngurah Rai. Penerapan biaya masuk dengan tarif khusus berlangganan ini bisa terwujud jika ada pertemuan antara pengelola bandara dengan asosiasi angkutan pariwisata seperti Pawiba yang mengayomi pengusaha angkutan wisata di Bali. Melalui pertemuan tersebut, bisa disepakati kedua belah pihak untuk penerapan biaya masuk berdasarkan tarif berlangganan bagi armada angkutan wisata di Bali yang masuk ke lingkungan Bandara Ngurah Rai.
Film Cowboys in Paradise tak Pengaruhi Kunjungan Wisata
Film dokumenter “Cowboys in Paradise ” yang menggambarkan sisi lain kehidupan pariwisata di Bali, tidak akan mempengaruhi kunjungan wisata ke Indonesia, khususnya ke Bali. Gambaran dari film dokumenter karya sutradara Singapura yang kabarnya akan disertakan dalam festival film dokumenter internasional itu hanya riak-riak kecil tentang sisi lain pariwisata di Bali semata.
Film ini tidak akan mempengaruhi kunjungan wisata secara nasional maupun wisata di Bali. Film yang menggambarkan para gigolo di Bali adalah dampak pariwisata, khususnya dampak negatifnya.
Sementara itu, jika di Yogyakarta kecil kemungkinan terjadi karena pelaku pariwisata masih memegang teguh budaya dan ada batasan norma, agama, dan aturan lainnya. Dampak negatif dari industri pariwisata sendiri seperti soal gigolo tidak sampai terekspos jika pelaku wisata menyadari dampak negatif dari pariwisata.
Mungkin satu dua ada yang melakukan hal yang sama seperti di dalam film tersebut. Namun, itu tidak terungkap dan diambil dari sisi positifnya saja industri pariwisata ini.
Adanya Penerbangan Langsung Dongkrak Kunjungan Wisatawan
Adanya fasilitas penerbangan langsung yang mengantar wisatawan ke Bali, akan membantu pengembangan sektor pariwisata Bali tahun 2010. Penerbangan langsung tersebut akan mendongkrak kunjungan wisatawan ke Bali pada tahun 2010.
Di tahun 2010 Bali akan banyak dikunjungi wisatawan. Ini dikarenakan didukung fasilitas penerbangan langsung dari luar negeri yang mengantarkan wisatawan ke Bali. Salah satu contoh KLM sudah melakukan penerbangan langsung ke Bali dengan rute Amsterdam-Bali.
Maskapai KLM ini sudah terbang langsung ke Bali dengan frekuensi terbang tiap hari. KLM ini terbang langsung dari Amsterdam ke Bali menempuh waktu mencapai 17 jam. Upaya Belanda untuk membuka rute Amsterdam-Bali merupakan keputusan yang strategis. Ini tentunya berdampak sangat baik terhadap sektor pariwisata Bali.
Pada bagian lain Garuda juga akan membuka penerbangan langsung ke Eropa mulai Juni 2010. Ini di antaranya penerbangan langsung dari Bali ke Amsterdam, London, Paris dan kawasan lainnya. Garuda tentunya memiliki rencana strategis jangka panjang untuk terbang ke Eropa.
Untuk terbang ke Eropa, maskapai penerbangan Indonesia ini tentunya mempersiapkan fasilitas termasuk pesawat dengan kemampuan terbang jarak jauh. Ini meliputi pesawat yang mampu terbang di atas 10 jam, 15 jam bahkan sampai 22 jam.
Penambahan fasilitas penerbangan ini tentunya akan mempermudah transportasi bagi wisatawan khususnya dari Eropa untuk berkunjung ke Bali. Bertambahnya jumlah sarana transportasi ini memberikan kesempatan bagi calon wisatawan seperti dari Eropa untuk berkunjung ke Bali. Penambahan kunjungan wisatawan ini akan mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada tahun 2010.
Selain itu, tahun 2011 Garuda juga akan membuka jalur penerbangan ke Los Angeles (Amerika). Ini merupakan peluang bagi pelaku pariwisata untuk menyasar pasar klasik. Ini menyangkut pasar-pasar yang dulu pernah ditinggalkan kini mulai digarap/dijamah kembali seperti pasar Amerika termasuk Eropa.