Search

Archive for March, 2010

Tingkat Hunian Hotel di Bali tak Merata

Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Bali tidak merata. Kendati kunjungan wisatawan ke Bali meningkat, namun secara keseluruhan TPK hotel yang rata-rata mencapai 53,21 persen ini, hanya dirasakan di sejumlah kawasan wisata saja seperti di Denpasar dan Badung.

Berdasarkan data di Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, lonjakan tertinggi tingkat hunian hotel berbintang di Bali Januari 2010 hanya terjadi di Badung dengan tingkat hunian sebesar 55,31 persen disusul Denpasar 52,35 persen. Sementara, Buleleng ada di peringkat terendah yakni 33,00 persen.

Untuk tingkat hunian hotel di Tabanan dan Gianyar masih stabil. Awal tahun 2010 ini, tingkat hunian di Tabanan tercatat 47,68 persen, sedangkan di Gianyar mencapai 42,37 persen. Selain Buleleng, untuk periode tersebut Karangasem juga menempati peringkat terendah yakni 34,09 persen.

Terjadi perubahan kecenderungan tempat favorit kunjungan wisatawan selama di Bali, dinilai para pelaku pariwisata Bali, karena banyaknya acara-acara bertaraf nasional maupun internasional yang diselenggarakan di kawasan pariwisata Badung dan Denpasar. Dengan demikian, lebih banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang memilih menginap di kawasan wisata tersebut.

Penyebaran wisatawan di Bali tidak merata. Jika dilihat dari persentasenya hampir 70 persen wisatawan yang berlibur memilih menginap Denpasar, Kuta, Nusa Dua, dan Gianyar. Sementara sisanya tersebar di Bali bagian utara dan timur.

Dinas Pariwisata Daerah Bali sudah kerap mengimbau para pelaku pariwisata untuk melakukan distribusi wisatawan secara merata menyusul over booking (kelebihan pemesanan kamar) yang terjadi pada hotel-hotel di kawasan Bali Selatan seperti kawasan Nusa Dua, Kuta dan Sanur pada musim libur panjang seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

Wisatawan di Bali masih terkonsentrasi di Bali Selatan, sedangkan kunjungan ke Bali Timur dan Bali Utara sangat kecil. Dengan adanya perbaikan destinasi secara terus-menerus, kawasan timur seperti Karangasem, dan kawasan Utara, Buleleng pada masa mendatang dapat dibanjiri wisatawan.

Membangun Pariwisata tak Sekadar Jual Objek Wisata

Membangun dan mengembangkan pariwisata, bukan sekadar menjual objek wisata sehingga pelaku pariwisata berlomba mempromosikannya agar objek wisata tersebut cepat laku.

Selama ini pengembangan pariwisata masih dipahami sekadar menjual objek wisata, bahkan keberhasilan pembangunan pariwisata hanya diukur dari banyaknya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke objek wisata.

Apabila yang mendasari keberhasilan pembangunan pariwisata nasional adalah banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia, berarti kepariwisataan yang dibangun selama ini menjadi sangat rapuh dan mudah tumbang karena pembangunan kepariwisataan di negeri ini hanya dipersiapkan untuk kepentingan bangsa lain, tanpa memahami kondisi bangsa sendiri. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan tersebut harus segera diubah.

Semestinya, keberhasilan pariwisata dilihat dari sejauh mana kepariwisataan mampu mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan.

Banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke negeri ini sebenarnya hanya merupakan bonus atas keberhasilan dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat yang usahanya berada di bidang pariwisata. Oleh karena itu, untuk membangun kepariwisataan yang kokoh, tidak rapuh dan mudah tumbang oleh berbagai isu, harus dicari solusinya.

Dalam membangun pariwisata memerlukan seni pergaulan yang simpatik, karena rasa simpatik membuat orang senang dan menumbuhkan minat berkunjung ke sebuah objek wisata.

Seni sebagai bagian dari budaya merupakan sesuatu yang menyentuh rasa sehingga rasa itulah yang dijual di bidang pariwisata. Jadi seni dan budaya memiliki korelasi erat dengan pariwisata.

Dari pemahaman tersebut, pembangunan pariwisata hendaknya melalui seni dan budaya sebagai solusi yang tepat.

Tim ”Sweeping” Gagal Temukan ”Guide” Asing

Adanya indikasi guide asing yang beroperasi di Bali secara ilegal, langsung ditindaklanjuti Disparda Bali. Namun, dari hasil sweeping itu, tim dari Disparda Bali gagal menemukan guide asing. Tiap kali tim sweeping Disparda Bali melakukan pengawasan di lapangan, tidak pernah menemukan adanya orang asing berpraktik sebagai pramuwisata di Bali.

Memang sulit untuk menemukan keberadaan orang asing yang berpraktik sebagai pramuwisata di Bali. Mereka menjual jasa sehingga sangat sulit bagi Disparda Bali untuk mencari pembuktian di lapangan. Berbeda jika pelaku kejahatan mengambil barang seperti maling, mungkin lebih mudah ditangkap aparat kepolisian karena barang yang dicuri bisa menjadi bukti kejahatan.

Selama ini pandangan yang berkembang di lapangan, wisatawan ini memberikan infomasi kepada temannya saat tour sudah divonis sebagai pramuwisata asing. Permasalahannya sulit membedakan wisatawan yang murni berlibur dan wisatawan yang berpraktik sebagai pramuwisata.

Tidak adanya aturan yang menyebutkan wisatawan wajib ditemani pramuwisata. Wisatawan yang berlibur ke Bali mencapai jutaan orang. Mereka ada yang tinggal di Bali mencapai 3 bulan sesuai dengan visa kunjungan wisatawan. Banyak wisatawan ketika melakukan kegiatan tour di objek wisata tidak ditemani pramuwisata.

Dalam melakukan penertiban di lapangan rata-rata rombongan wisatawan sudah ditemani pramuwisata lokal. Di bagian lain, ketika ditemui di kawasan objek wisata di Bali banyak wisatawan tidak ditemani pramuwisata lokal. Ketika dijaring, wisatawan ini selalu menunjukkan murni melakukan kegiatan tour dan tidak ada berpraktik sebagai pramuwisata. Ini mereka buktikan dengan menunjukkan visa kunjungan.

Wisatawan tanpa pramuwisata lokal sangat sulit dibuktikan menggunakan pramuwisata asing. Andaikan mereka membawa teman wisatawan ini selalu beralasan sama-sama murni melakukan kegiatan tour.

Tim sweeping sudah melakukan upaya untuk menertibkan pramuwisata asing yang ada di kawasan objek wisata di Bali. Tim sweeping Disparda Bali juga memiliki kewenangan untuk melakukan penertiban kepada orang asing yang berpraktik sebagai pramuwisata. Ini dikarenakan, tim sweeping ini melibatkan imigrasi dan Disnaker.

Jika menemukan indikasi pelanggaran, tim sweeping dari imigrasi akan melakukan pemeriksaan kepada orang asing yang diidentifikasi melakukan praktik pramuwisata di lapangan. Kenyataan, dari hasil investigasi di lapangan tim sweeping tidak mendapatkan bukti dari orang asing yang dicurigai melakukan praktik pramuwisata. Jawaban yang selalu diterima tim sweeping, mereka murni melakukan kegiatan tour dengan bukti visa kunjungan yang mereka kantongi.

Februari 2010 lalu tim sweeping Disparda Bali telah beberapa kali turun untuk melakukan pengawasan seperti di Tanah Lot, Tanjung Benoa dan lokasi objek wisata rafting. Selama bulan Februari 2010 ini tim sweeping mampu menjaring 31 pramuwisata ilegal.

Harapkan Jadi Objek Wisata Spritual Gubernur Buka Internasional Bali-India Yoga Festival II

Kabupaten Buleleng memiliki potensi pariwisata terutama agro dan ekotourisem. Di tengah perkembangan sektor pariwisata, kini muncul segmentasi pariwisata di bidang spiritual.

Buktinya, sejumlah kawasan wisata spiritual di beberapa desa di Buleleng mulai dipromosikan baik oleh pelaku pariwisata maupun pemerintah daerah. Dan kini satu lagi kawasan wisata spiritual dibuka berlokasi di Dusun Gunung Sari, Desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada.

Kawasan wisata berlabel Internasional Bali-India Yoga Festival II dibuka Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Kamis (4/3) kemarin. Hadir menyaksikan pembukaan kemarin Wakil Bupati Buleleng Made Arga Pynatih bersama pejabat terkait di Pemkab Buleleng.

Internasional Bali-India Yoga Festival II menjadi lokasi festival yoga yang bertajuk yoga dan global warming meliputi kegiatan unik bertaraf internasional. Di antaranya workshop Yoga, Ayurweda, seminar, kompetisi internasional yoga, pelatihan guru, yoga dan kesehatan. Selain itu, juga menjadi lokasi pementasan tari, fashion show yoga, penghijauan dan tracking .

Gubernur Bali Mangku Pastika menegaskan, pelaksanaan internasional Bali-India Yoga Festival II merupakan ajang internasional yang mampu menarik pariwisata dunia. Dan merupakan ajang promosi pariwisata khususnya di Buleleng. Untuk itu, Gubernur mengajak masyarakat di Tegalinggah mendukung dan memelihara kawasan yang sudah dibangun. Keberhasilan pembangunan di Dusun Gunung Sari, merupakan keberhasilan masyarakat Buleleng karena tanpa dukungan dari masyarakat pembangunan tidak akan berhasil.

”Saya minta tempat ini dijaga dan memelihara sehingga akan tetap asri dan mampu memikat wisatawan untuk berkunjung ke Buleleng,” Ungkap Gubernur Bali Mangku Pastika.

Sementara Wakil Bupati Buleleng Made Arga Pynatih menegaskan, yoga dan lingkungan saling terkait. Di mana pun ada tempat indah, asri, bersih dan suci, maka sangat cocok untuk yoga. Ini berarti dengan mempraktikkan yoga sebagai kegiatan hidup sehari-hari, maka masyarakat sudah melakukan upaya pelestarian lingkungan sebagai wujud dukungan mengerem global warming.

Disparda harus Tertibkan BPW yang Gunakan Guide Asing

Masih adanya indikasi orang asing/wisatawan mancanegara (wisman) yang berpraktik sebagai pramuwisata (guide) asing di Bali, mesti disikapi secara tegas Pemprop Bali.

Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Bali bisa melakukan langkah investigasi kepada biro perjalanan wisata (BPW) di Bali yang diprediksi masih menggunakan pramuwisata asing.

Wisman atau orang asing memang tidak diperbolehkan untuk menjadi pramuwisata di Bali. Dalam rangka membantu kegiatan tour di Bali, orang asing ini hanya diperbolehkan menjadi tour leader (TL). TL ini dalam mengantar kegiatan tour wisatawan di Bali wajib ditemani dengan pramuwisata lokal yang berlisensi.

Undang-Undang Kepariwisataan tentunya tidak membenarkan orang asing termasuk orang lokal berpraktik sebagai pramuwisata di Bali tanpa dilengkapi dengan lisensi. Untuk mendapatkan lisensi, pramuwisata Bali diwajibkan untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Disparda Bali bersama asosiasi pramuwisata di Bali.

Disparda wajib melakukan langkah penanganan pramuwisata asing yang diindikasi masih berpraktik di Bali. Ini bisa dilakukan dengan langkah investigasi menyasar BPW yang masih diidentifikasikan menggunakan pramuwisata asing. Perlu dipertanyakan apa dasar BPW menggunakan pramuwisata asing. Penggunaan pramuwisata asing ini sudah jelas merupakan bagian dari pelanggaran aturan pemerintah. Kegiatan investigasi ini bisa dilakukan PPNS di Disparda Bali bersama tim terkait.

Langkah investigasi penggunaan pramuwisata asing ini mesti diikuti dengan pemberian sanksi tegas. Disparda bisa memberikan teguran bagi BPW yang terbukti menggunakan pramuwisata asing. Bahkan, jika beberapa kali mengulangi pelanggaran menggunakan pramuwisata asing, Disparda Bali bisa memberikan sanksi pencabutan izin kepada BPW yang bersangkutan.

Penanganan praktik pelanggaran penggunaan pramuwisata asing ini tidak boleh secara sepihak. Kasus penggunaan pramuwisata asing ini mesti dilakukan secara proporsional. Orang asing berpraktik sebagai pramuwisata di Bali mesti diberikan sanksi tegas. Pramuwisata asing telah melakukan pelanggaran UU Ketenagakerjaan dan UU Imigrasi.

Naik 58,86 Persen, Kunjungan Wisatawan Australia ke Bali

Wisatawan Australia yang berlibur ke Bali sebanyak 44.412 orang selama bulan Januari 2010, meningkat 58,86 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya tercatat 27.956 orang.

Wisatawa Australia datang ke Bali sebagian besar lewat Bandara Ngurah Rai, dengan menumpang pesawat udara yang terbang langsung dari negaranya, hanya 378 orang yang tercatat lewat pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar.

Australia menempati urutan teratas dari sepuluh negara terbanyak yang memasok turis ke Bali, menyusul Jepang, Cina, Taiwan, Korea Selatan, Rusia, Malaysia, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat. Australia memberikan kontribusi sebesar 24,77 persen dari total wisman ke Bali sebanyak 179.273 orang dalam bulan pertama 2010, meningkat 2,71 persen dibanding bulan Januari 2009.

Bali selama 2009 menerima kunjungan masyarakat Australia sebanyak 446.570 orang, bertambah 42,62 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 313.111 orang. Dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Bali, empat negara menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan dan enam negara mengalami penurunan.

Empat negara yang mengalami peningkatan selain Australia juga Korea Selatan sebesar 26,49 persen dari 8.105 orang pada Jaruari 2009 menjadi 10.252 orang, menyusul Belanda 40,10 persen dari 4.444 orang menjadi 6.226 orang dan Rusia meningkat 2,51 persen dari 8.901 orang menjadi 9.124 orang.

Enam negara yang masyarakatnya berkurang ke Bali meliputi Jepang sebesar 23,86 persen, Cina 31,44 persen, Taiwan 8,55 persen, Malaysia 28 persen, Prancis 6,17 persen dan Amerika Serikat 8,36 persen.

Strategi Promosi Pariwisata harus Diubah

Guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali, Pemprop Bali harus tetap mempromosikan Bali kepada calon wisatawan di luar negeri. Pemprop Bali semestinya tidak perlu memangkas dana promosi ke luar negeri, melainkan mengubah strategi promosi agar menjadi lebih efektif.

Kegiatan promosi mesti tepat sasaran. Oleh sebab itu, kegiatan promosi mesti dilakukan dengan perencanaan yang matang. Kegiatan promosi ke luar negeri mesti ditingkatkan melihat tingginya kompetisi sektor pariwisata Bali dengan pariwisata lain di luar negeri.

Keberhasilan kegiatan promosi ke luar negeri sangat tergantung dari dukungan dana dan kontinyuitas kegiatan promosi. Jika pemerintah memangkas dana anggaran promosi ke luar negeri, tentunya kegiatan promosi pariwisata Bali tidak akan berlangsung secara optimal.

Permasalahan yang mendesak bukannya pengurangan anggaran promosi ke luar negeri. Ini melainkan pengurangan jumlah pejabat pemerintah termasuk DPRD yang tidak bisa berpromosi. Jika kegiatan promosi masih melibatkan pejabat pemerintah yang tidak bisa berpromosi, tentunya kegiatan promosi tersebut akan menjadi sia-sia. Orang-orang yang ikut dalam kegiatan promosi mesti bisa berbahasa asing.

Promosi pariwisata tidak mesti langsung berpromosi ke luar negeri. Pemprop Bali bisa memanfaatkan promosi melalui media asing meliputi media cetak maupun media elektronik di luar negeri. Promosi melalui media elektronik di luar negeri salah satunya sangat efektif mengenalkan pariwisata Bali kepada calon wisatawan di luar negeri.

Teknik promosi yang dikemas secara baik melalui media asing akan merangsang wisatawan mancanegara untuk berlibur ke Bali. Dana promosi yang dianggarkan Pemprop Bali mesti difokuskan untuk periklanan pariwisata Bali melalui media asing di luar negeri.

Alternatif lain media promosi lain, Pemprop Bali bisa memanfaatkan tenaga kerja lokal yang bekerja di luar negeri. Orang lokal yang bekerja di luar negeri tidak hanya di kapal pesiar, tetapi juga hotel-hotel di darat. Mereka bisa menjadi media promosi bagi pariwisata Bali karena mereka tenaga kerja lokal di luar negeri ini selalu bertemu langsung dengan wisatawan atau orang-orang di luar negeri.

Pemprop Bali belum pernah memanfaatkan tenaga kerja lokal di luar negeri menjadi media promosi. Salah satu contoh dalam beberapa kali pemberangkatan tenaga kerja lokal ke kapal pesiar tidak ada instansi pemerintah yang menitipkan brosur atau CD untuk promosi pariwisata di luar negeri.

Sebenarnya, pemerintah cukup menyediakan beberapa keping CD yang di dalamnya terdapat daya tarik pariwisata untuk dititipkan kepada wisatawan melalui tenaga kerja lokal yang bekerja di luar negeri.
Pembuatan alat promosi berupa CD ini tentunya membutuhkan dana promosi dari pemerintah. Alat promosi berupa CD ini mesti dikemas dari orang ahli di bidangnya terutama dari Dinas Pariwisata Daerah Bali.

Tenaga kerja lokal di antaranya sudah banyak bekerja pada seluruh kawasan negara di dunia. Pemprop Bali mesti memanfaatkan tenaga kerja lokal tersebut secara optimal untuk mempromosikan Bali. Pemerintah tidak boleh memangkas biaya promosi melainkan mesti mengoptimalkan dana dan kegiatan promosi melalui jalur promosi melalui media asing maupun promosi melalui tenaga kerja lokal yang bekerja di luar negeri.