Modal Budaya Jadi Landasan Pariwisata Kuta
Modal budaya sebagai landasan pengembangan pariwisata Kuta, Badung, menjadikan unsur budaya wilayah desa adat (pakraman) setempat menjadi bagian dari budaya pariwisata global.
Kondisi demikian mengantarkan Desa Adat Kuta mendapat citra sebagai desa modern (global village) yang sangat dibanggakan dewasa ini oleh berbagai pihak. Dilakukan penelitian dan pengkajian tentang modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata di Desa Adat Kuta untuk meraih gelar doktor pada program Pascasarjana Universitas Udayana dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Fenomena globalisasi muncul seiring dengan kebanggaan masyarakat Desa Adat Kuta terhadap citra desa modern, seperti tercermin dalam kegiatan Kuta Karnival, aktivitas seni tahunan yang digelar masyarakat setempat.
Kegiatan seni budaya yang digelar secara berkesinambungan itu, menunjukkan adanya kebebasan wisatawan dari berbagai negara di belahan dunia untuk menikmati berbagai praktik budaya yang berkembang dan lestari di wilayah Desa Adat Kuta.
Kuta merupakan salah satu dari 1.453 desa adat di Bali yang mengalami perkembangan pariwisata sangat pesat, tercermin dalam makna modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata yang mampu memberikan makna inovatif, religius, pelestarian dan makna kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Pariwisata diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup warga desa adat setempat untuk terus melakukan inovasi terhadap modal budaya, supaya bisa menarik perhatian wisatawan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke Kuta dan Bali pada umumnya.
Selain itu, mampu mengembangkan dan melestarikan modal budaya yang tidak lepas dari jati diri desa adat Kuta yang religius dari desakan pariwisata.