Kuta bisa Dijadikan Model Pembelajaran Pariwisata Budaya
Pengembangan pariwisata desa adat di Kuta, Badung, bisa dijadikan model pembelajaran bagi daerah lain di Indonesia yang berminat menjadikan modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata. Misalnnya studi banding yang dilakukan ke Desa Adat Kuta, akan memperoleh pengetahuan baru atau menambah wawasan tentang pariwisata yang berkembang seiring dinamika pariwisata global.
Kawasan wisata Kuta yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri yang berlibur ke Bali merupakan desa adat pertama dari 1.452 desa pakraman di Bali yang pariwisatanya berkembang pesat.
Bahkan, dalam pengembangan tersebut sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan terintegrasi dengan fasilitas peruntukan warga desa adat setempat untuk menggelar berbagai kegiatan adat dan ritual. Hasil studi banding itu diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan dalam mengembangkan pariwisata berlandaskan budaya sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Oleh sebab itu, penelitian tentang modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata perlu terus dilanjutkan, mengingat perubahan terjadi seirama perkembangan iptek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan dinamika pariwisata dunia. Selain itu, modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata di Kuta menunjukkan, kebudayaan telah menjadi propaganda pemerintah dan pengusaha pariwisata untuk mengajak masyarakat bisa menerima ideologi pasar yang penuh persaingan dan gaya hidup yang pragmatis.
Oleh sebab itu, kebudayaan tidak hanya sebagai pengarah yang menentukan dalam suatu masyarakat yang dipatuhi atau menjadi petunjuk arah dalam praktik yang berhubungan dengan religiusitas, namun menjadi modal promosi pariwisata bagi perjuangan kepentingan merebut keuntungan ekonomi pasar wisata.